Flexing itu kata yang sebenarnya sejak zaman covid sudah trending, tetapi akhir-akhir ini, telingaku jujur agak kesel dengan kata-kata ini. Sebenarnya kata ini waktu kecil sering disebut sebagai pamer/riya.
Nah flexing itu enak parahhh, tetapi secara psikologi, tentu saja, hal ini bersifat sementara, dan suatu saat akan ada titik dimana, flexing itu malah melukai diri sendiri.
Lantas bagaimana kita menyikapinya? Bersikap biasa terhadap orang pamer adalah jalan utama untuk meredakan fenomena ini. Tetapi apa mau dikata, mungkin dari kita bisa menahan diri memuji mereka, tetapi kita tidak bisa mengendalikan pikiran masyarakat bukan?
Ya setidaknya itu mulai dari dirimu, percaya, mulai dari hal kecil, dari dirimu sendiri, dan ajak orang orang sekitar, mungkin fenomena ini dapat dikontrol.
Intinya, hal flexing yang dilakukan orang harus dihadapi dengan biasa aja. Jika kita yang dalam posisi si "flexer" ya berarti sebaliknya, kita harus sadar, bahwa barang itu hanya titipan. Percaya deh, banyak hal lebih indah ketika kita tidak perlu memamerkan milik kita.
Thanks
Tidak ada komentar:
Posting Komentar