Hallo Kawan!
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 April 2025

Blogger, Should Still Life, but!......

 I just uninstall my blogger apps on my phone

 

Today, 22 March  

Apakah dirimu tau Blogger, ku tau pasti jika kamu lahir di rentang 1995 - 2003. Kecuali memang jiwamu bukan penulis, ya tapi tak apa. Toh ini cuma tempat menulis.

Okey, jadi aku nginstall aplikasi blogger tuh semenjak aku baca buku Madre karya Dee Lestari. Niatnya aku pengen bisa buat draf yang bisa ku terbitin setiap minggu, yang baca ada? Welp, tentu tidak wkwkk. Tapi ya gimana setidaknya aku nulis bebas dulu deh. Toh ini biar pikiran di kepalaku tetap tajam dan bisa mengekspresikan pendapat.

Aslinya banyak sekali peristiwa di negeri ini yang pengen ku tulis, tetapi gimana ya, ah mungkin itu menarik, tapi aku tak pengen melukai penghayatan, penerbitan satu minggu sekali. Duh, mana mungkin aku bisa mencegah pikiranku untuk bereksplorasi lebih jauh yakan.

Balik lagi ke masalah blogger ini, jadikan blogger tuh platform buat nuangin ide, lah kok sekarang ada pembaruan, dibatasin buat ngeditnya, ya kali, kamu ga bisa sebebas itu ngedit/menyunting tulisan yang udah kamu susun. Ya apa serunya, emang pikiran kita dapat begitu saja benar?

Nah ini protes kecilku pada Blogger, yang aku harap sih tetap ada, tetapi ya gimana ya, tulisan ini pastilah juga tak akan sampai ke mereka.

Jumat, 28 Maret 2025

Tipuan Segitiga - Penipuan yang Merajalela di Facebook


 

 Ide mengenai tulisan ini muncul begitu saja, ketika aku sedang menscroll ria facebook ku di hari Kamis Siang, di momen ramadhan yang begitu indah ini. Sebagai orang yang telah diuntungkan dengan jual beli dunia maya, aku kerap kali menggunakan facebook sebagai media tepercaya. 

Tak ayal, aku juga pernah ketipu dari platform ini, bahkan platform satunya juga berhasil menipuku juga. Saat itu, nafsu memiliki sesuatu menjadi akibat tak berdayanya isi kepala untuk mencerna, mana barang yang dijual atau hanya tipuan belaka.

 Terakhir, aku juga nyaris kena penipuan, untung saat itu aku memang tidak memiliki rezeki untuk membeli barang tersebut. Mungkin, terkadang, dengan keterbatasan entah bagaimana ceritanya malah jadi keberkahan yang sering terlupakan. 

Okey, aku mau cerita modus penipuan yang paling baru, jadi aku abis mengomentari bahwa aku suka sepatu xyz, di akun milik @starting.lane, tak lama kemudian ada request DM, yang menawarkan jika aku beli sepatu xyz dan abc sekaligus maka diskon akan lebih besar. Posisinya waktu itu adalah akhir tahun. Ya tentu, aku harus penghematan, ga semudah itu beli sepatu, wkwkk.

 Nah, pas aku udah gajian, tiba-tiba aku terfikir tentang akun itu, pas ku cek, ternyata akunnya adalah instagram.user (akun yang sudah dihapus). Disitulah aku terkejut, dan menyadari bahwa aku dihubungi oleh @starting.lane___ , metode penipuan klasik, namanya phising, khususnya typosquatting. 

Yap, penipuan yang sengaja membuat tulisannya disalahkan, supaya pembaca terkecoh. Nah, mengetahui hal tersebut. Jujur, aku langsung ketawa, ketawa pada diri sendiri, untung ga ada duit pas itu. Dari situ aku teringat tnetang penipuan yang serupa sebelumnya, tentang thrifting yang tak kunjung dikirim.

Ah, tapi mungkin itu bagian dari pengalaman hidup. Harapannya, pembaca ga ada yang kena beginian ya. 

Coba deh baca yang kushare, itu penipuan segitiga, itu kacau sih, penipunya ga dateng, tetapi dia menghubungkan penjual dan pembeli asli. Semoga mereka tersadarkan deh, mau doa gimanapun, tapi kadang emang sulit diberantas penipuan seperti itu.

Nah, harapannya, kalian jangan begitu ya. Yuk, jadi pedagang yang jujur, insyaAllah hidup auto mujur. Aamiin.

Sabtu, 15 Maret 2025

Fenoma Flexing

Flexing itu kata yang sebenarnya sejak zaman covid sudah trending, tetapi akhir-akhir ini, telingaku jujur agak kesel dengan kata-kata ini. Sebenarnya kata ini waktu kecil sering disebut sebagai pamer/riya.

Nah flexing itu enak parahhh, tetapi secara psikologi, tentu saja, hal ini bersifat sementara, dan suatu saat akan ada titik dimana, flexing itu malah melukai diri sendiri. 

Lantas bagaimana kita menyikapinya? Bersikap biasa terhadap orang pamer adalah jalan utama untuk meredakan fenomena ini. Tetapi apa mau dikata, mungkin dari kita bisa menahan diri memuji mereka, tetapi kita tidak bisa mengendalikan pikiran masyarakat bukan? 

Ya setidaknya itu mulai dari dirimu, percaya, mulai dari hal kecil, dari dirimu sendiri, dan ajak orang orang sekitar, mungkin fenomena ini dapat dikontrol. 

Intinya, hal flexing yang dilakukan orang harus dihadapi dengan biasa aja. Jika kita yang dalam posisi si "flexer" ya berarti sebaliknya, kita harus sadar, bahwa barang itu hanya titipan. Percaya deh, banyak hal lebih indah ketika kita tidak perlu memamerkan milik kita.

Thanks